Minggu, 25 April 2010

Jadi Ada Apa sih Dengan Borobudur?

Gawat. Genting. Dan perlu perhatian.

Itulah tiga kata yang kira-kira menggambarkan Candi Borobudur kita saat ini.
Untuk tau lebih detilnya. Yuk baca artikel di bawah ini, mengenai keadaan Candi Borobudur sekarang.

==========================
======================

A.Pencitraan di Mata Dunia
Citra Borobudur sebagai salah satu warisan budaya dunia saat ini sedang mendapat sorotan serius dari institusi-institusi inernasional yang menangani kebudayaan seperti ICOMOS. ICOMOS adalah konsultan bagi UNESCO. ICOMOS mengatakan bahwa adanya ketidakteraturan pedagang di area Candi Borobudur yang mana kios-kios di sekitar area parkir mobil dan area halaman depan candi tetap merupakan hal yang penting. Namun, keadaan ini tidak sesuai dengan harapan pengunjung sebuah candi warisan kelas dunia. Ini mengurangi keinginan pengunjung datang ke sana karena menyebabkan ketidaknyamanan bagi mereka. Secara tak langsung, ini terkait pula dengan isu pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar Borobudur.

Selain hal tersebut, ICOMOS juga mengevaluasi bahwa pengunjung datang ke Candi Borobudur dan kembali ke Yogyakarta tanpa mengunjungi tempat lain di area Candi Borobudur dan tanpa membeli sesuatu di sana. Hal ini mengakibatkan masyarakat sekitar candi yang memiliki usaha, khususnya pemilik kios yang berada di sana mengejar pendapatan dengan cara menjual cinderemata di dekat tempat parkir zona 2. Keadaan ini menciptakan ketidakteraturan dan ketidaknyamanan untuk para wisatawan. Sehingga memerlukan adanya upaya untuk memperbaiki keadaan tersebut dan memperbaiki citra Candi Borobudur sebagai warisan bangsa Indonesia yang bermartabat.

B. Hidup Dalam Harmoni
Adanya kekurangharmonisan antar stakeholder juga menyebabkan pengelolaan Candi Borobudur sebagai warisan dunia kurang bersinergi dengan baik. Beberapa pihak melihat Candi Borobudur sebagai pariwisata berbasis business oriented, tanpa memperhatikan aspek lainnya. Banyaknya stakeholder dengan kepentingan yang berbeda menyebabkan konflik dan justru mengakumulasi permasalahan sehingga menjadi berkepanjangan. Masalah muncul karena perbedaan dalam memaknai nilai dari sebuah world heritage, dimana terdapat nilai budaya, religi, dan nilai ekonomi dari Candi Borobudur. Semua nilai ini harus dijaga dan dilihat sebagai sebuah kesatuan, karena pada dasarnya Candi Borobudur merupakan milik semua pihak. Pihak yang hidup dalam sebuah keselarasan.

C. Paradigma Baru
Dalam pengelolaan manajemen warisan budaya, UNESCO memiliki paradigma baru dimana warisan budaya tidak hanya bentuk monumen tertutup untuk orang tertentu tetapi berubah menjadi tempat yang dapat dilihat oleh semua orang. Paradigma lama yang menyatakan bahwa warisan budaya hanya berupa komponen fisik kini sudah berkembang menjadi lebih luas yaitu tidak hanya bangunan fisik semata tetapi juga tradisi kehidupan. Dari sisi pengelolaan dan kegunaan juga terdapat perubahan paradigma yaitu pengelolaan oleh pemerintah menjadi pengelolaan berbasis komunitas, sedangkan fungsi untuk rekreasi berkembang menjadi fungsi pembangunan.



D. Mari Kita Selamatkan Borobudur
Berdasarkan ketiga poin di atas, maka kami mengajak anda untuk berpartisipasi dalam program penyelamatan Borobudur. Berdasarkan polling SMS yang diselenggarakan UNESCO, Borobudur tak lagi masuk dalam daftar situs heritage dunia, dan dalam waktu dekat pencoretan ini akan diresmikan. Mari tunjukkan pada dunia, bahwa kita masyarakat Indonesia, mencintai Candi Borobudur dan semua potensi desa di sekitarnya, bahwa kita menghargai warisan budaya nenek moyang, turut melestarikan, bahkan mengembangkannya.

Penyelamatan dibagi dalam jangka pendek: Penghargaan Nolongan (No longer Asongan), Kompetisi Fotografi, dan Kontes Blog. Dalam jangka panjang adalah pengembangan Desa Binaan untuk pemberdayaan masyarakat. Kami mengundang anda, untuk ikut berpartisipasi. Sekarang. Untuk menyelamatkan Borobudur kita.

========================================

Sekarang.
Datangi langsung http://lets.saveourborobudur.org
Suarakan petisimu dan apapun yang kamu rasakan tentang Candi Borobudur.
Ajak dan invite semua teman untuk gabung, dan suarakan pedulimu.

Save Our Borobudur

Sabtu, 24 April 2010

Kemegahan Arsitektur Borobudur

Kemegahan Arsitektur Borobudur


Bangunannya terdiri dari sepuluh tingkat. Strukturnya terbuat dari setidaknya 55.000 meter kubik batuan yang sudah dirapikan bentuknya. Disusun satu persatu menjadi sebuah candi yang besar dan megah.

Borobudur adalah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bentuknya berundak-undak. Terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama yang terbesar sebagai puncaknya.

Selain itu, tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Tembok dan dindingnya dihiasi dengan berbagai relief yang menutup seluruh permukaan seluas 2.500 meter persegi. Sepuluh tingkatan yang terpatri dalam bangunan candi Borobudur diyakini memapar filsafat mazhab Mahayana, mewakili gambaran sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Secara struktural, bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.
Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini, patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.

Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup dengan lubang-lubang bentuk persegi empat dalam kurungan. Dari luar, patung-patung itu masih tampak samar-samar. Namun ada sejumlah 72 stupa terbuka yang tersebar dengan masing-masing satu patung Buddha.

Unfinished Buddha
Pada puncak candi Borobudur, yaitu bagian puncak, menggambarkan ketiadaan wujud yang dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar itu kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama Unfinished Buddha.

Nama Unfinished Buddha diberikan karena patung Buddha ini tampak belum selesai dikerjakan. Dugaan ketidaksiapan pembuatan patung ini ditunjukkan dalam beberapa literatur seperti: ikal rambut (salah satu ikonografi Buddha) yang tidak ada, hiasan kain (juga ikonografi Buddha) tidak tampak, salah satu bahu tangan yang lebih besar daripada bahu tangan yang lain. Pernah disebutkan bahwa patung ini ditemukan di bawah sebuah pohon di samping candi Borobudur.

Sebagai catatan tambahan, sebelum restorasi pertama 1907-1911 oleh Theodoor van Erp, di puncak candi didirikan sebuah gubuk sebagai gardu pandang. Ada kemungkinan pada masa itu patung yang belum selesai ini disingkirkan dari atas dan dipindahkan ke bawah candi.

Konstruksi dan desain relief pada Candi Borobudur memang mencerminkan karya agung para seniman di masa pembangunannya. Kemegahan itu menandingi kemegahan Angkor Vat di Kamboja, yang juga menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun bangunan yang diperkirakan sudah berusia 1.200 ribu tahun ini belum diketahui pasti peruntukannya, namun yang pasti adalah satu peninggalan penganut agama Buddha di masa kejayaan Matarama Kuno di tahun 750-an.

Berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Di sebuah lapangan bertanah datar seluas 2.500 meter persegi. Hanya berjarak 40 km ke arah Baratlaut dari Yogyakarta dan 100 km arah Baratdaya ibukota Jawa Tengah, Semarang.

Candi bertingkat sepuluh ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana. Tidak diketahui persis tahun berapa candi ini mulai dibangun, namun perkiraan ahli sekitar tahun 750-850 M. Maka, raja-raja pada Dinasti Sailendra yang dipercaya sebagai penggagas pembangunan candi Buddha terbesar di dunia itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat.

Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak. Yaitu bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Bila ditinjau dari udara, struktur Borobudur membentuk struktur mandala (formasi melingkar). Sejarawan spesialis Asia Tenggara, JG de Casparis (31 Mei 1916-19 Juni 2002) dalam salah satu disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun 1950, berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari Dinasti Sailendra bernama Samaratungga (perkiraan tahun 824 M). Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya berkuasa yakni Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu lima puluh tahunan.

Namun perkiraan lain, pondasi Borobudur sudah dibangun sekitar tahun 750 M. Ini berdasarkan prakiraan bahwa candi Borobudur pernah dibongkar struktur dasarnya.

Bekas dasar awal itu masih terlihat dan tampak sudah diperlebar. Kemudian rancang bangunnya juga disempurnakan dengan penambahan undakan dan stupa-stupa.

Sampai akhirnya Borobudur selesai seperti tampak sekarang dengan polesan di relief, tangga batu dan lengkungan atas pintu.
(berbagai sumber)